Penumpang Gelap ke Tembilahan (Bagian II)

 

Ilustrasi: suasana Pelabuhan Lama Banjarmasin era tahun 1917-an.
(Foto: nett)
Oleh: Taufik Arbain


BORNEOTREND.COM - Tiga pemuda kakak beradik ini dalam pelayaran mendapati siang dan malam, merasakan deburan ombak dan dinginnya angin. Tatkala malam tidur seakan berbantalkan ombak berselimutkan angin. Tekad yang besar merantau, lapar sehari-dua pun mereka tahan. Jikalau ada makanan, berbagi bertiga menjadi kebiasaan. Jikalau ada pengganggu, pantang tidak melawan. 

Kandangan cing ai!!! Tradisi Banjar jika sudah melangkahkan kaki meninggalkan rumah, pantang berpaling ke belakang, karena shalawat Nabi telah dibacakan, hidup mati urusan Tuhan.

Tiga pemuda kakak beradik ini nampaknya baru pertama kali dalam pelayaran mengarungi lautan luas. Kalau bakayuh dengan jukung di sungai tak terhitung dalam catatan, karena masa itu transportasi di Kalimantan bagian selatan mengandalkan sungai transportasi air, apalagi mereka yang jauh tinggal di hulusungai. 

Seperti orang yang baru berlayar sesekali ke haluan, sesekali ke buritan kapal. Memandang hamparan lautan tak bertepi, menahan dinginnya hembusan angin siang dan malam. Jangan bertanya apakah pakai jaket? Jangankan pakai pakai jaket, baju yang dipakaipun setipis kain ayakan (Banjar, red). Karena tiga pemuda ini adalah orang-orang nekat mengadu nasib dan mendengar ramainya cerita mengasikkan di tanah rantau, dibandingkan di tanah sendiri. Setiap memandang lautan sembari berpikir panjang segala mimpi yang akan diharapkan.  

Bagaimana tentang Kuala Tungkal dan Tembilahan hanya meraba-raba angan saja, bahwa kondisinya mirip seperti tanah kelahiran. Kuala Tungkal dan Tembilahan adalah kawasan favorit didatangi, apalagi zaman itu tidak ada kisah yang paling viral, kecuali kisah madam ke Tembilahan dan Kuala Tungkal lalu akan menyebar lagi ke kawasan lain mendatangi sanak saudara atau orang yang sama-sama sekampung berasal dari hulusungai.

Tiga pemuda kakak beradik tadi merasakan sesuatu bahwa mereka bertiga seperti diawasi oleh petugas kapal perahu Bugis yang mereka tumpangi. Ada saja cara mereka menghindar, pura-pura memandang laut lepas, lalu ada pura-pura berpencar ke kiri kanan perahu dan belakang, ada pura-pura bercengkarama dengan penumpang lainnya, termasuk orang yang mereka bantu mengangkat barang saat di pelabuhan muara Banjar. Menariknya ada pula pura-pura membantu petugas kapal dalan mengatur barang-barang penumpang.  

Tiga pemuda kakak beradik ini, menginginkan cepat sampai ke Kuala Tungkal dan menginjakkan kaki ke Tembilahan, karena kapal perahu Bugis ini akan menuju Kuala Tungkal dan Tembilahan. Apalagi penumpang yang ada di kapal itu hampir semua dari Banjar Hulusungai, ada dari Kandangan, Kelua, Alabio, Amuntai, Barabai dan Banjarmasin. Jika ada penumpang dari Kandangan, terasa ada sanak saudara. 

Tiga pemuda kakak beradik ini sebagaimana lazimnya urang bujang, adalah perilaku menyingking-nyingking kalau ada penumpang perempuan dara di kapal itu. Matkasan adalah seorang dari mereka yang konon sangat pandai tebar pesona, atau memandang yang disuka tak redup mata (siapakah keturunan cucu buyutnya ni.......heehehe). 

Namun Matkasan ini pula yang berani menghadapi terdepan jika aral menanti. Babasal dan mantra tiupan membata dalam hati, suatu kelaziman bagi perantau Hulusungai. Allahuma bintang bahambur di hadapanku, bulan purnama di muka, matahari memancar di belukukanku...barang siapa...(maaf tidak dilanjutkan, untuk kalangan internal). 

Dalam cengkarama di kapal mereka mendapati penumpang ada yang sudah pernah ke Tembilahan dan Kuala Tungkal, serta ada yang dibawa kerabat yang lebih dulu tinggal di Tembilahan. Sementara tiga pemuda kakak beradik ini, tidak tahu kepada siapa mereka akan mengadu dan berlabuh guna menumpang hidup di perantauan. Wani manimbai lunta, wani jua manajuni menjadi prinsip tiga pemuda kakak beradik ini.

Tiga pemuda kakak beradik ini dari kejauhan nampak melihat ramai kapal perahu, di sekitar pantai utara Jawa. Rupanya kapal perahu Bugis ini akan singgah di pelabuhan Batavia (Jakarta). Sebentar lagi sampai, seiring matahari akan masuk ke peraduannya. Kegembiraan membuncah tiga pemuda kakak beradik ini, karena melihat sebuah bandar besar yang ramai disinggahi kapal dan perahu penumpang barang. Kapal mereka pun merapat ke pelabuhan, sebagian penumpang turun, sebagian besar tetap di kapal karena akan meneruskan pelayaran ke Kuala Tungkal dan Tembilahan. 

Saat tiga pemuda kakak beradik itu memandangi penumpang yang turun di Bandar Batavia, seorang petugas kapal mendatangi mereka menanyakan pelayaran melanjutkan kemana? Kontan salah satu diantara mereka menjawab ke Tembilahan. Namun karena berbagai alasan yang disampaikan petugas kapal, dan mereka tidak mampu membayar tambang (ongkos) menuju Tembilahan, bahkan ongkos dari Banjarmasin ke Bandar Batavia pun sangat kurang. 

Tiga pemuda kakak beradik ini meminta belas kasian agar bisa melanjutkan ke Tembilahan, namun belas kasihan bak pungguk merindukan bulan. Sah, Tiga Pemuda Kakak Beradik itu didakwa penumpang gelap, dan terpaksa diturunkan di Bandar Batavia. Pikiran mereka berkecamuk, mengapa sewaktu di Banjarmasin tidak menumpang perahu saudagar Bakumpai atau saudagar Banjar, setidaknya bisa merayu dan bisa menjamin sanak keluarga yang ada. Tetapi apa dikata, takdir tiga pemuda kakak beradik ini harus mengikuti jalannya. (bersambung)   

Dr. Taufik Arbain, M.Sc

(diceritakan generasi ketiga Matkasan, Januari 2025). 

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال