Orasi Kesenian: Seni yang Hidup, Seni yang Berdekatan

 


Oleh: Novyandi Saputra


SAUDARA-saudara sekalian, kita hidup dalam zaman yang bergerak cepat, di mana kesenian bukan sekadar ekspresi individual, tetapi sebuah ekosistem yang berkelindan dengan masyarakat, sejarah, dan kehidupan sehari-hari. Hari ini, kita bertanya: ke mana seni harus bergerak? 

Apakah ia hanya berputar dalam ruang-ruang eksklusif yang sulit dijangkau, ataukah ia harus hidup dan tumbuh bersama warga, membaca gejolak zaman, dan menjawab tantangan sosial, politik, serta ekologis?

Seniman bukan sekadar pencipta, tetapi juga inisiator kebudayaan. Ia seharusnya bukan hanya berdiri di menara gading kesenian, tetapi turun ke jalan, membaca tanda-tanda zaman, mendengar suara-suara yang selama ini terpinggirkan. Ia harus mampu menangkap keresahan sosial, mengolahnya menjadi bahasa seni, dan mengembalikan hasilnya kepada publik sebagai ruang dialog dan pemantik perubahan. 

Harari dalam Homo Deus mengingatkan kita bahwa manusia hari ini tengah mencari makna baru dalam keberadaannya, di tengah revolusi data dan algoritma yang menggeser peran humanisme. Jika dulu kita memahami seni sebagai medium ekspresi dan estetika, kini ia harus berkembang menjadi sarana untuk menavigasi dunia yang semakin kompleks. Seni harus mampu menjawab tantangan besar: bagaimana manusia tetap memiliki makna dalam dunia yang didominasi teknologi, ketimpangan sosial, dan krisis lingkungan?

Ekosistem kesenian tidak bisa hanya berputar di lingkaran yang itu-itu saja. Ia harus bergerak lebih luas, keluar dari galeri yang steril, panggung yang berjarak, dan forum-forum akademik yang sering kali hanya berbicara kepada dirinya sendiri. Seni harus kembali kepada rakyat. Ia harus hadir di pasar-pasar, di kampung-kampung, di tepian sungai, di lahan-lahan yang hampir digusur, di ruang-ruang di mana kehidupan berlangsung dengan segala keberagamannya. 

Kesenian harus menjadi ekosistem yang hidup—bukan sekadar pertunjukan megah yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang, tetapi sebuah gerakan yang bisa diakses, dihidupi, dan dimiliki oleh warga. Kita harus menolak eksklusivitas yang membelenggu, dan mulai membangun ruang-ruang yang lebih terbuka, di mana seni tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga diciptakan dan diperdebatkan oleh banyak orang.

Kita tidak bisa berbicara tentang seni tanpa berbicara tentang keadaan sekitar. Seni harus berani menghadapi kenyataan—tentang bagaimana kota ini dibangun, bagaimana tanah-tanah warga digusur, bagaimana lingkungan dihancurkan atas nama kemajuan, bagaimana ketimpangan ekonomi semakin lebar. Seni tidak bisa netral. Ia harus berpihak. 

Maka, mari kita kembali menghidupkan ekosistem kesenian yang dekat dengan kehidupan. Seni yang bukan sekadar tontonan, tetapi gerakan. Seni yang tidak hanya dirayakan dalam festival, tetapi dirasakan dalam keseharian. Seni yang bukan hanya sebuah peristiwa, tetapi sebuah proses yang terus bertumbuh. 

Inilah saatnya bagi kita, para pekerja seni, untuk kembali kepada akar. Untuk menciptakan inisiatif-inisiatif baru yang membaca keadaan sosial, politik, dan ekologis. Untuk membangun ekosistem kesenian yang hidup, yang merawat, dan yang berpihak kepada kemanusiaan. 

Penulis adalah seniman, akademisi dan Direktur NSAPM


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال